Efisiensi Anggaran Iklan Pemerintah, Dampak terhadap Media Lokal dan Tantangan di Era Digital

- Jurnalis

Rabu, 7 Mei 2025 - 10:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pernyataan viral dari Dedi Mulyadi yang menyebut bahwa anggaran iklan Pemprov Jawa Barat yang sebelumnya mencapai Rp50 miliar kini cukup dengan Rp3 miliar namun tetap viral, menjadi sorotan publik.

Pernyataan ini menegaskan bagaimana media sosial telah menjadi alat komunikasi publik yang lebih efisien, dibandingkan dengan media tradisional.

Namun, di balik efisiensi ini, muncul pertanyaan besar: Apa dampaknya bagi keberlangsungan media lokal?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sudah lama diakui bahwa media sosial memainkan peran penting dalam komunikasi publik. Menurut Dr. Rulli Nasrullah, M.Si., seorang ahli komunikasi digital, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai saluran penyebaran informasi, tetapi juga menciptakan ruang interaksi yang memungkinkan partisipasi publik secara real-time.

“Media sosial mendukung komunikasi dua arah, mempercepat pembentukan persepsi publik, dan memungkinkan pemangku kepentingan berinteraksi langsung dengan masyarakat,” tulis Rulli dalam bukunya Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi (2014).

Meski efektivitas media sosial dalam komunikasi publik tidak diragukan lagi, pergeseran anggaran dari media massa ke digital dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi media lokal.

Prof. Masduki, Ph.D., seorang dosen di Universitas Islam Indonesia, dalam Jurnal Komunikasi Indonesia, menyebut bahwa media lokal sangat bergantung pada pendapatan iklan dari pemerintah daerah. Pengurangan anggaran iklan media tradisional berpotensi menyebabkan pemutusan hubungan kerja, menurunnya kualitas laporan, hingga mengancam keberlangsungan media lokal itu sendiri .

“Jika pemerintah tidak bijak dalam merancang kebijakan komunikasi publiknya, ketidakseimbangan informasi di tingkat daerah akan muncul, karena media sosial lebih cenderung mengangkat isu nasional dibanding persoalan komunitas lokal,” ujar Prof. Masduki (2020).

Selain dampak finansial, pergeseran strategi komunikasi pemerintah dari media tradisional ke digital berpotensi menimbulkan ketegangan dalam hubungan antara pemerintah dan media lokal.

Hubungan yang sebelumnya saling menguntungkan dalam penyebaran informasi publik dapat berubah menjadi tidak seimbang, karena pemerintah cukup berkomunikasi langsung melalui media digital tanpa peran media lokal.

Untuk menghindari keretakan informasi lokal, pemerintah daerah harus memperlakukan media lokal sebagai mitra strategis, bukan hanya sebagai saluran promosi. Sebaliknya, media sosial dan media lokal harus saling melengkapi, bukan dipertentangkan.

Di sisi lain, media lokal juga perlu beradaptasi dengan perubahan pola komunikasi di era digital. Beberapa strategi yang dapat dilakukan agar media lokal tetap relevan, di antaranya:

  1. Mengubah model bisnis dengan mencari sumber pendapatan baru di luar iklan pemerintah.
  2. Meningkatkan keterampilan digital, baik dalam penyajian berita maupun strategi pemasaran konten.
  3. Memperkuat keterlibatan komunitas, agar tetap menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat lokal.

Seperti yang dikatakan Prof. Janet Steele dari Universitas George Washington, “Media lokal tetap akan relevan jika mereka mampu menunjukkan bahwa keberadaan mereka memiliki dampak langsung pada kehidupan masyarakat sekitar” (Steele, 2011, Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia).

Kesimpulan: Perlu Keselarasan antara Media Sosial dan Media Lokal

Langkah efisiensi anggaran oleh pemerintah daerah adalah strategi yang masuk akal, namun tidak boleh mengorbankan prinsip demokrasi lokal, yang selama ini dijunjung oleh media tradisional.

Seharusnya, pemerintah daerah dan media lokal saling beradaptasi, bukan saling menggantikan. Kerja sama—bukan persaingan—harus menjadi kunci utama dalam sistem komunikasi publik di era digital ini.


Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Editor : Bung Ewox

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kurs Rupiah Hari Ini: Ditutup Melemah, Pasar “Wait and See” Jelang RDG BI
Pengamat Prediksi Rupiah Tembus Rp17.100 per Dolar AS Pekan Ini
GMNI Jakarta Timur Desak Menkeu Copot Dirjen Pajak Buntut Dugaan Suap
AS Perketat Syarat Masuk Jelang Piala Dunia 2026, 75 Negara Masuk Daftar Hitam
Waspada Ancaman Mata Kering di Jabodetabek: 41% Warga Terdampak Tanpa Sadar
905 Ribu Kendaraan Padati Jalur Puncak Bogor Selama Nataru
Revolusi Sepak Bola: FIFA Uji Coba “Wenger Law” dan Aturan Kiper untuk Akhiri Era Offside Milimeter
Kejar Rekor 1.000 Gol, Cristiano Ronaldo: Jika Tidak Ada Cedera Insya Allah

Berita Terkait

Selasa, 20 Januari 2026 - 22:31 WIB

Kurs Rupiah Hari Ini: Ditutup Melemah, Pasar “Wait and See” Jelang RDG BI

Senin, 19 Januari 2026 - 08:40 WIB

Pengamat Prediksi Rupiah Tembus Rp17.100 per Dolar AS Pekan Ini

Senin, 19 Januari 2026 - 04:53 WIB

GMNI Jakarta Timur Desak Menkeu Copot Dirjen Pajak Buntut Dugaan Suap

Minggu, 18 Januari 2026 - 20:26 WIB

AS Perketat Syarat Masuk Jelang Piala Dunia 2026, 75 Negara Masuk Daftar Hitam

Rabu, 7 Januari 2026 - 21:39 WIB

Waspada Ancaman Mata Kering di Jabodetabek: 41% Warga Terdampak Tanpa Sadar

Berita Terbaru

Tangkapan layar Surat Edaran Nomor 800.1.5/219/BKPSDM.PKA tertanggal 19 Januari 2026.

Bekasi

Wali Kota Bekasi Larang ASN Nikah Siri dan Selingkuh

Rabu, 21 Jan 2026 - 13:58 WIB

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca