Oleh: Anita Oktavia [Mahasiswa aktif S1 Akuntansi, Universitas Pamulang]
Pentingnya Konseling dalam Kesehatan Mental
“Nggak usah lebay, nanti juga hilang sendiri,”
“Kamu kurang ibadah, makanya stres,”
“Jangan mikir aneh-aneh, syukuri hidup,”
Kalimat-kalimat ini mungkin terdengar familiar. Banyak dari kita tumbuh dalam lingkungan yang cenderung menghindari pembicaraan soal kesehatan mental.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bicara soal emosi sering dianggap berlebihan, dan mencari bantuan profesional masih dipandang tabu. Namun, semakin kita menunda bicara, semakin panjang luka yang harus ditangani.
Mengapa Banyak Orang Masih Menunda Konseling?
Meskipun kesadaran tentang kesehatan mental semakin meningkat, konseling masih jarang menjadi pilihan utama.
Bukan karena orang tidak peduli, tetapi karena berbagai alasan seperti:
- Takut dinilai oleh lingkungan sekitar.
- Tidak tahu harus ke mana untuk mendapatkan bantuan.
- Merasa belum “cukup parah” untuk mencari pertolongan profesional.
Padahal, sama seperti kesehatan fisik, deteksi dini gangguan mental bisa menyelamatkan.
Konseling bukan hanya untuk mereka yang berada di titik nadir, tetapi juga bagi siapa saja yang merasa kewalahan dalam menjalani hidup.
Konseling Bukan Tanda Kelemahan, Tapi Keberanian
Mengakui bahwa kita butuh bantuan bukanlah kelemahan. Justru, itu adalah bentuk keberanian—keberanian untuk menghadapi diri sendiri, memahami luka yang belum sembuh, dan belajar membangun ulang dari puing-puing yang pernah runtuh.
Sama seperti kita pergi ke dokter saat flu, tidak ada yang aneh dari menemui psikolog ketika hati dan pikiran terasa berat.
Konseling adalah bagian dari perawatan diri yang seharusnya dinormalisasi, bukan dianggap sebagai solusi terakhir.
Fakta di Balik Layar – Tantangan dan Solusi Konseling di Indonesia
Menurut data Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK), jumlah psikolog klinis di Indonesia masih belum mencukupi kebutuhan populasi.
Ditambah lagi, sebagian besar layanan berada di kota besar, sehingga akses bagi masyarakat di daerah masih terbatas.
Namun, ada kabar baik: kini tersedia berbagai alternatif layanan konseling, seperti:
- Konseling daring melalui aplikasi atau platform online.
- Konsultasi psikolog lewat BPJS yang lebih terjangkau.
- Pusat bantuan di kampus atau komunitas yang menyediakan layanan gratis atau berbiaya rendah.
Semua ini akan percuma jika stigma masih menghalangi orang untuk mencari bantuan.
Oleh karena itu, penting untuk mengubah sudut pandang bahwa “curhat ke profesional” bukanlah aib, melainkan langkah bijak untuk menjaga kesehatan mental.
Kisah Nyata – ‘Bicara Menyelamatkan Hidupku’
Rara (nama samaran), 21 tahun, berbagi pengalamannya memulai konseling:
“Awalnya aku pikir cukup curhat ke teman. Tapi makin lama aku sadar, aku butuh orang yang bisa benar-benar bantu. Akhirnya, aku coba konseling online. Di sesi pertama aja aku nangis dari awal sampai akhir. Rasanya plong banget.”
Baginya, memutuskan untuk konseling adalah titik balik—dari menanggung semuanya sendiri, menjadi bisa memahami dan menerima dirinya secara utuh.
Kisah seperti Rara menunjukkan bahwa berbicara dengan profesional bisa menjadi langkah awal menuju pemulihan.
Saatnya Mengubah Sudut Pandang tentang Konseling
Daripada melihat konseling sebagai solusi terakhir, mengapa tidak menjadikannya bagian dari perawatan diri sejak awal? Sama seperti olahraga dan makan sehat untuk fisik, konseling adalah nutrisi bagi jiwa.
Kita tidak perlu menunggu dunia berubah untuk mulai peduli. Cukup mulai dari diri sendiri:
✅ Validasi perasaanmu, jangan abaikan.
✅ Cari tahu layanan konseling terdekat atau online.
✅ Normalisasikan pembicaraan soal kesehatan mental di lingkunganmu.
✅ Jangan takut bilang, “Aku butuh bantuan.”
Menjadi Pendengar yang Tidak Menghakimi
Jika temanmu berbagi cerita, jangan buru-buru memberi nasihat. Terkadang, yang mereka butuhkan hanyalah ruang untuk didengar.
Jika kamu merasa tidak mampu membantu, arahkan dengan lembut untuk mencari bantuan profesional.
Kita mungkin bukan psikolog, tetapi kita bisa menjadi jembatan bagi mereka yang membutuhkan.
Bicara Itu Perlu, Bukan Tabu
Memulai konseling bukan berarti kamu gagal. Justru, itu bukti bahwa kamu cukup peduli untuk memperbaiki diri. Jangan biarkan stigma menghalangi langkahmu untuk sembuh.
Ingat, bicara hari ini bisa menyelamatkan esokmu. Konseling bukan pilihan terakhir—kadang, itu justru langkah awal yang kita butuhkan.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
Penulis : Anita Oktavia [Mahasiswa aktif S1 Akuntansi, Universitas Pamulang]
Editor : Bung Ewox







































