Beijing Desak AS Hentikan Diskriminasi Bisnis TikTok di Washington

- Jurnalis

Jumat, 26 Desember 2025 - 05:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kementerian Perdagangan China mendesak AS menciptakan lingkungan bisnis transparan terkait divestasi TikTok kepada Oracle menyusul kesepakatan ByteDance. (Foto: GSM Arena)

Kementerian Perdagangan China mendesak AS menciptakan lingkungan bisnis transparan terkait divestasi TikTok kepada Oracle menyusul kesepakatan ByteDance. (Foto: GSM Arena)

Poin Utama:

  • Kesepakatan Baru: TikTok resmi menjual operasional AS ke perusahaan patungan (joint venture) yang dipimpin Oracle.
  • Tuntutan Beijing: China menuntut AS menciptakan lingkungan bisnis yang nondiskriminatif dan menghormati hukum domestik kedua negara.
  • Aturan Main: ByteDance wajib melepas minimal 80% asetnya di AS sesuai undang-undang keamanan nasional.
  • Risiko Fatal: Kegagalan divestasi akan berujung pada pemblokiran total aplikasi TikTok di seluruh wilayah Amerika Serikat.

​Pemerintah China akhirnya angkat bicara merespons babak baru pengelolaan TikTok di Amerika Serikat (AS) pasca langkah divestasi ByteDance. Beijing secara tegas menekankan pentingnya solusi yang selaras dengan hukum domestik mereka serta mendesak Washington untuk menjaga keseimbangan kepentingan tanpa diskriminasi, Kamis (26/12/2025).

​Apa Poin Penting Pernyataan Pemerintah China?

​Kementerian Perdagangan China menyoroti perlunya iklim perdagangan yang sehat antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia ini. Mereka menegaskan bahwa kesepakatan ini merupakan tindak lanjut dari komunikasi intensif antar-pemimpin negara, namun tetap menuntut perlakuan yang setara.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​”Kami berharap Amerika Serikat dapat bekerja searah dengan China, menunaikan kewajiban mereka secara sungguh-sungguh, dan menciptakan lingkungan bisnis yang adil, terbuka, serta transparan,” tegas He Yongqian dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (26/12/2025).

​Menurut He, stabilitas hubungan ekonomi bilateral hanya bisa tercapai jika AS menghentikan tekanan sepihak dan mulai mendukung ekosistem bisnis yang berkelanjutan bagi perusahaan asal Negeri Tirai Bambu.

​Bagaimana Skema Penyelamatan TikTok di AS?

​Pernyataan Beijing ini keluar hanya sepekan setelah TikTok resmi menandatangani kesepakatan krusial. Operasional TikTok di AS kini dialihkan kepada perusahaan patungan (joint venture) baru yang dipimpin oleh raksasa teknologi, Oracle.

​Langkah ini dianggap sebagai strategi “mengamankan napas” bagi aplikasi video pendek tersebut agar tetap bisa diakses oleh jutaan penggunanya di Negeri Paman Sam tanpa melanggar regulasi keamanan nasional setempat.

​Mengapa ByteDance Didesak Melepas Asetnya?

​ByteDance, perusahaan induk TikTok yang berbasis di Beijing, berada dalam posisi sulit akibat undang-undang AS yang disahkan tahun lalu. Regulasi ini secara spesifik menargetkan platform asing yang dianggap berpotensi membahayakan data warga AS.

​Berikut adalah fakta kunci tekanan regulasi yang dihadapi ByteDance:

  • Wajib Divestasi: ByteDance harus melepas sedikitnya 80 persen kepemilikan asetnya di AS.
  • Tenggat Waktu: Terdapat batas waktu ketat untuk penyelesaian transaksi ini.
  • Ancaman Blokir: Jika divestasi gagal, TikTok terancam diblokir total secara nasional di seluruh wilayah Amerika Serikat.

​Apa Dampaknya Bagi Kedaulatan Teknologi China?

​Bagi Beijing, kepatuhan TikTok terhadap aturan AS tidak boleh menginjak-injak kedaulatan hukum China. Isu paling sensitif dalam negosiasi ini adalah perlindungan terhadap teknologi inti dan algoritma rekomendasi konten yang menjadi aset terbesar TikTok.

​Kini, bola panas berada di tangan regulator kedua negara untuk memastikan transisi kepemilikan ini memuaskan standar keamanan AS, namun tetap tidak merugikan posisi tawar teknologi China di kancah global.

​Ketegangan ini menjadi ujian nyata bagi diplomasi ekonomi China dan AS di tahun 2025. Publik global kini menanti apakah transisi ini akan berjalan mulus atau justru memicu perang dagang teknologi babak baru.

Ingin terus mendapatkan update berita internasional dan teknologi terkini? Pantau terus informasinya hanya di RakyatBekasi.Com.


Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Revolusi Sepak Bola: FIFA Uji Coba “Wenger Law” dan Aturan Kiper untuk Akhiri Era Offside Milimeter
Kejar Rekor 1.000 Gol, Cristiano Ronaldo: Jika Tidak Ada Cedera Insya Allah
Tarif Cukai Rokok dan Minuman Manis Resmi Naik Mulai 1 Januari 2026 di Bekasi
Pemerintah Salurkan BLT Kesra Rp900 Ribu Jelang Akhir Tahun di Bekasi
Jasa Marga Catat 210 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jabodetabek H-1 Natal
Hotel Harper Cikarang Hadirkan Promo Natal dan Tahun Baru 2026, Tawarkan Konsep “Retrolution” yang Meriah
NH Award 2025: Saat Prestasi dan Akhlak Berjalan Beriringan di Pesantren Nurul Huda Setu
Menyiapkan Diri Sebelum Api Datang: Kisah Kesiapsiagaan di MA Nurul Huda

Berita Terkait

Rabu, 31 Desember 2025 - 18:40 WIB

Revolusi Sepak Bola: FIFA Uji Coba “Wenger Law” dan Aturan Kiper untuk Akhiri Era Offside Milimeter

Selasa, 30 Desember 2025 - 23:28 WIB

Kejar Rekor 1.000 Gol, Cristiano Ronaldo: Jika Tidak Ada Cedera Insya Allah

Jumat, 26 Desember 2025 - 17:34 WIB

Tarif Cukai Rokok dan Minuman Manis Resmi Naik Mulai 1 Januari 2026 di Bekasi

Jumat, 26 Desember 2025 - 06:00 WIB

Pemerintah Salurkan BLT Kesra Rp900 Ribu Jelang Akhir Tahun di Bekasi

Jumat, 26 Desember 2025 - 05:02 WIB

Beijing Desak AS Hentikan Diskriminasi Bisnis TikTok di Washington

Berita Terbaru

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca