BEKASI – Pemerintah Kota Bekasi terus memperkuat langkah mitigasi bencana hidrometeorologi, khususnya banjir kiriman yang kerap melanda wilayah bantaran sungai. Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, secara resmi memperkenalkan alat pendeteksi dini atau Early Warning System (EWS) berteknologi mutakhir yang kini telah terpasang di sejumlah titik strategis.
Berbeda dengan alat konvensional, EWS terbaru ini didukung oleh teknologi Artificial Intelligence (AI) atau Kecerdasan Buatan. Teknologi ini memungkinkan pemantauan yang jauh lebih presisi, tidak hanya mengukur ketinggian air, tetapi juga kecepatan arus yang datang dari wilayah hulu.
Teknologi AI: Deteksi Debit dan Kecepatan Air
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto menjelaskan bahwa pemasangan EWS canggih ini merupakan hasil kolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Langkah ini diambil untuk menekan fatalitas dan kerugian materi akibat bencana yang sering kali sulit diprediksi karena faktor cuaca ekstrem.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
”Ini adalah upaya yang dilakukan bersama BNPB untuk mengurangi tingkat fatalitas terkait bencana yang ada. Kita tahu bahwa cuaca saat ini sangat sulit diprediksi,” ujar Tri Adhianto dalam keterangan resminya, Selasa (16/12/2025).
Tri memaparkan keunggulan utama dari EWS berbasis AI ini. Sistem pengolah data cerdas yang tertanam dalam perangkat tersebut mampu memberikan analisis real-time yang lebih komprehensif kepada petugas dan masyarakat.
”Sekarang sudah pakai teknologi yang lebih maju. Dengan menggunakan teknologi AI dan pengolah data, tidak saja ketinggian air yang bisa dihitung, tetapi juga kecepatannya. Sehingga ada informasi awal yang lebih akurat kepada masyarakat,” paparnya.
Enam Titik Pantau di Jalur Rawan
Berdasarkan data teknis, alat deteksi cepat ini dipasang di enam (6) titik krusial yang berfungsi memantau potensi luapan air, khususnya di sepanjang aliran Kali Bekasi dan Kali Cikeas. Wilayah ini diketahui memiliki kerentanan tinggi terhadap limpahan air atau “banjir kiriman” saat debit air di hulu meningkat drastis.
Tri tidak memungkiri bahwa topografi Kota Bekasi memiliki sejumlah wilayah yang berstatus rawan karena berdekatan langsung dengan Daerah Aliran Sungai (DAS). Oleh karena itu, sinyal dari hulu menjadi kunci utama dalam manajemen bencana di kota ini.
”Sehingga nanti apabila di wilayah hulu seperti Sentul atau Bogor sudah mulai terjadi kenaikan debit air akibat curah hujan tinggi, tentu alat ini akan berbunyi dan mengirimkan sinyal,” sambung Tri.
Meningkatkan Kesiapsiagaan Warga
Tujuan utama dari modernisasi alat EWS ini adalah memberikan golden time atau waktu emas bagi warga untuk melakukan evakuasi mandiri sebelum air mencapai permukiman.
Dengan adanya peringatan dini yang lebih cepat dan akurat, masyarakat di bantaran sungai diharapkan dapat segera mengamankan dokumen penting dan barang berharga lainnya.
”Masyarakat bisa lebih bersiap diri dan menjangkau tempat aman untuk melakukan mitigasi kebencanaan. Warga jadi lebih aware, surat-surat berharga sudah mulai dirapikan. Walaupun kita tentu tidak berharap bencana itu terjadi, tetapi pemasangan perangkat ini adalah langkah antisipatif minimal untuk meningkatkan kesiapsiagaan warga,” pungkas Tri Adhianto.
Melalui inovasi ini, Pemerintah Kota Bekasi berharap risiko kerugian akibat banjir dapat diminimalisir, sekaligus mewujudkan kota yang lebih tangguh dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.








































