Poin Utama:
- Nilai tukar Rupiah terpantau melemah hingga menyentuh level Rp17.691 per Dolar AS pada perdagangan sektoral, Kamis (21/05/2026).
- Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi melalui DKPPP memastikan pasokan kedelai impor di pasaran tetap aman dan terkendali.
- Harga bahan baku tahu dan tempe belum mengalami gejolak berarti meski ada fluktuasi kurs mata uang asing.
- Pemantauan intensif dilakukan di sejumlah pasar tradisional dan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Kopti).
Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh angka Rp17.691 kerap memicu kekhawatiran masyarakat, terutama bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perajin tahu dan tempe.
Menyikapi tren penurunan kurs tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) bergerak cepat memastikan bahwa pasokan dan harga bahan baku kedelai impor di wilayahnya tetap dalam kondisi aman, Kamis (21/05/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Apakah Pelemahan Rupiah Berdampak pada Harga Kedelai di Kota Bekasi?
Dampak fluktuasi kurs mata uang asing tentu menjadi perhatian serius, mengingat kedelai merupakan salah satu komoditas pangan yang pemenuhannya masih sangat bergantung pada keran impor.
Berdasarkan data penutupan perdagangan sektoral per Kamis (21/05/2026), nilai tukar Rupiah memang terpuruk di level Rp17.691 per Dolar AS.
Meski demikian, pasokan bahan baku utama pembuat tahu dan tempe ini belum menunjukkan gejolak kelangkaan di lapangan.
”Untuk saat ini, ketersediaan bahan baku kedelai di pasaran masih tergolong sangat aman, dan secara harga juga terbilang normal,” kata Tati Hartati selaku Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan DKPPP Kota Bekasi kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com, Kamis (21/05/2026).
Mengapa Kota Bekasi Bergantung pada Pasokan Kedelai Impor?
Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah maupun impor tidak terlepas dari struktur tata ruang kota. Kota Bekasi bukanlah kawasan agraris yang difokuskan untuk sektor pertanian dalam skala masif.
”Secara ketersediaan, Kota Bekasi bukanlah daerah produksi, melainkan murni daerah konsumsi,” kata Tati.
Oleh karena itu, kelancaran rantai distribusi dari hulu ke hilir sangat menentukan kestabilan harga pangan dasar ini.
Gangguan sedikit saja pada pasokan dapat memukul sektor UMKM lokal yang memproduksi kebutuhan pangan harian masyarakat.
Bagaimana Langkah Pemkot Bekasi Mencegah Kelangkaan Kedelai?
Sebagai langkah antisipatif terhadap potensi lonjakan harga yang mendadak, Pemkot Bekasi menginstruksikan jajaran DKPPP untuk terus melakukan inspeksi ke lapangan.
Pengawasan dan pemantauan harga dieksekusi secara ketat di sejumlah titik perniagaan dan pasar tradisional yang tersebar di wilayah Kota Bekasi.
Beberapa langkah konkret yang terus dioptimalkan pemerintah daerah meliputi:
- Memonitor langsung ketersediaan fisik dan pergerakan harga kedelai di pasar-pasar tradisional.
- Menjalin koordinasi intensif dengan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Kopti) setempat.
- Mengevaluasi tren penjualan untuk mencegah praktik penimbunan stok oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
”Dengan pemantauan baik di pasar-pasar maupun di Kopti, pengecekan bahan baku kedelai terus dioptimalkan demi memonitoring apabila ada potensi kenaikan harga bahan baku secara sewaktu-waktu,” tegas Tati mengakhiri penjelasannya.
Kestabilan harga pangan dasar merupakan pilar penting dalam menjaga daya beli dan pergerakan ekonomi rakyat.
Jangan lewatkan pembaruan informasi terkini seputar kebijakan publik, ekonomi, dan pemerintahan Kota Bekasi hanya di RakyatBekasi.Com.
Bagikan artikel ini kepada rekan atau komunitas perajin Anda, dan sampaikan opini Anda di kolom komentar!
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



















