Di tengah maraknya fenomena pengibaran bendera One Piece atau ‘Jolly Roger’ menjelang HUT ke-80 RI, muncul sebuah analisis politik tajam dari kalangan akademisi.
Wakil Rektor III Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi, Abdul Khoir, memandang tren ini lebih dari sekadar ekspresi budaya pop.
Dalam analisisnya yang diterima pada Rabu (06/08/2025), Abdul Khoir mengemukakan dugaan bahwa fenomena ini bisa jadi merupakan sebuah gerakan politik terselubung untuk menguji soliditas kekuasaan pemerintahan saat ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dugaan Gerakan Politik ‘Jokowisme’
Menurut Abdul Khoir, pengibaran bendera bajak laut ini memiliki dua lapisan makna. Lapisan pertama adalah bentuk protes sosial terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap memberatkan rakyat, dengan memanfaatkan momentum hari kemerdekaan untuk menuntut solusi.
Namun, ia menyoroti lapisan kedua yang lebih bernuansa politis. Ia mensinyalir adanya keterkaitan fenomena ini dengan dinamika kekuasaan pasca-Pilpres.
“Ini bisa dikaitkan dengan gerakan politik yang disinyalir datang dari pendukung yang terafiliasi dengan Gibran Rakabuming Raka atau gerakan Jokowisme,” ungkap Abdul Khoir.
Tujuannya, menurut analisisnya, adalah untuk “menguji soliditas kekuasaan politik Prabowo Subianto berikut dengan partai-partai pendukungnya.” Gerakan simbolik ini dinilai sebagai cara untuk melihat seberapa solid dan responsif koalisi yang berkuasa dalam menghadapi isu yang viral di masyarakat.
Ekspresi Demokrasi dan Batasannya
Meskipun menyajikan analisis politik yang dalam, Abdul Khoir tetap menempatkan fenomena ini dalam koridor demokrasi. Menurutnya, sebagai bentuk ekspresi kekecewaan rakyat, hal tersebut masih dapat dianggap wajar.
“Sebagai ekspresi kekecewaan rakyat, masih bisa dianggap wajar di negara demokrasi,” katanya.
Namun, ia menggarisbawahi adanya batasan yang tidak boleh dilanggar. “Tetapi jika bendera One Piece sampai mendegradasi kehormatan pada bendera resmi negara Republik Indonesia, tentu itu harus dicegah dan ditindak tegas,” tegasnya.
Konteks Fenomena yang Lebih Luas
Analisis politik yang disampaikan oleh akademisi UNISMA ini menjadi salah satu dari beragam interpretasi yang muncul.
Di kalangan penggemar, pengibaran bendera kru Topi Jerami adalah perayaan atas nilai-nilai kebebasan, persahabatan, dan perlawanan terhadap tirani yang menjadi tema utama manga One Piece.
Sementara itu, dari sisi pemerintah daerah, seperti yang telah disampaikan Pemkot Bekasi dalam kesempatan berbeda, imbauan difokuskan pada ajakan untuk menjaga nasionalisme dan tidak menyandingkan bendera Merah Putih dengan simbol-simbol lain yang dianggap kurang etis dalam konteks perayaan kemerdekaan.
Dengan demikian, selembar bendera dari dunia fiksi kini menjadi arena pertarungan makna yang kompleks di ruang publik Indonesia, membentang dari ekspresi penggemar, kritik sosial, hingga dugaan manuver politik tingkat tinggi.
Bagaimana Anda menafsirkan fenomena ini? Sampaikan pandangan Anda di kolom komentar.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







































