Memasuki puncak musim penghujan, frekuensi laporan ular liar yang masuk ke pemukiman di Kota Bekasi mengalami lonjakan signifikan. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Bekasi mencatat menerima lima hingga tujuh laporan permintaan evakuasi ular dari masyarakat setiap harinya.
Peningkatan laporan ini menunjukkan eskalasi konflik antara satwa liar dan manusia seiring dengan perubahan cuaca dan menyusutnya habitat alami.
Kepala Disdamkarmat Kota Bekasi, Abi Hurairah, mengonfirmasi data tersebut. Menurutnya, angka ini merupakan cerminan dari aktivitas ular yang meningkat selama musim hujan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Berdasarkan rekapitulasi laporan harian, kami bisa menerima 5 sampai 7 permintaan untuk evakuasi ular. Ini adalah periode tersibuk kami untuk penanganan satwa liar,” ujar Abi kepada rakyatbekasi.com saat dikonfirmasi pada Minggu (10/08/2025).
Data Evakuasi dan Jenis Ular yang Paling Sering Dilaporkan
Berdasarkan data yang terhimpun, Disdamkarmat Kota Bekasi telah melakukan evakuasi sebanyak 507 ekor ular terhitung sejak awal tahun 2025 hingga Jumat, 8 Agustus 2025.
Jenis ular yang dievakuasi pun beragam, mulai dari yang tidak berbisa hingga yang memiliki bisa mematikan.
“Jenis ular yang kami evakuasi cukup bervariasi, namun yang paling sering dilaporkan adalah Ular Sanca (Piton) dan Ular Kobra. Untuk laporan Ular Kobra, dalam sepekan terakhir kami bisa menerima hingga dua laporan, ini yang paling kami waspadai karena bisanya yang berbahaya,” jelas Abi.
Faktor Pemicu: Musim Kawin dan Habitat yang Tergerus
Abi menjelaskan ada dua faktor utama yang menyebabkan ular semakin sering masuk ke area permukiman warga.
- Siklus Biologis: Musim hujan adalah waktu bagi ular untuk kawin dan bertelur. Induk ular akan menjadi lebih agresif dalam mencari makanan dan tempat yang hangat serta aman untuk meletakkan telurnya, dan rumah warga seringkali memenuhi kriteria tersebut.
- Hilangnya Habitat Alami: Pembangunan masif di wilayah perkotaan seperti Bekasi telah menggerus lahan terbuka hijau, rawa, dan kebun yang menjadi rumah bagi ular. “Dulu mereka hidup di alam terbuka, tapi sekarang lahannya semakin menipis akibat pembangunan perumahan dan gedung. Konsekuensinya, mereka terpaksa pindah ke pemukiman warga untuk bertahan hidup,” tambahnya.
Imbauan Keras: Jangan Ambil Risiko, Segera Hubungi Profesional
Melihat tingginya potensi bahaya, Abi Hurairah memberikan imbauan keras kepada masyarakat agar tidak mencoba menangani ular sendiri tanpa memiliki keahlian khusus.
“Keahlian khusus sangat diperlukan. Jangan mencoba menangani sendiri, terutama jika tidak bisa membedakan mana ular berbisa dan mana yang tidak. Risikonya sangat fatal,” tegasnya. “Jika menemukan ular sanca mungkin masih bisa ditangani bersama dengan hati-hati, tapi jika itu kobra, serahkan sepenuhnya pada kami.”
Jika menemukan ular, langkah yang harus diambil adalah:
- Tetap Tenang: Jangan panik atau membuat gerakan tiba-tiba yang bisa memprovokasi ular.
- Jaga Jarak Aman: Mundur perlahan dan pastikan ada jarak yang cukup antara Anda dengan ular.
- Amankan Lokasi: Jauhkan anak-anak dan hewan peliharaan dari area tersebut.
- Segera Lapor: Hubungi petugas Disdamkarmat untuk penanganan yang aman dan profesional.
Ular yang berhasil dievakuasi akan ditampung sementara sebelum diserahkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk dilepasliarkan kembali ke habitat yang lebih sesuai.
Tim Rescue Disdamkarmat Kota Bekasi siaga 24 jam untuk merespons laporan masyarakat. Untuk permintaan evakuasi ular atau kondisi darurat lainnya, hubungi:
- Call Center: 112
- Kontak Langsung Disdamkarmat: 021-88957805
“Jangan ragu melapor. Respons time kami cepat untuk segera menangani setiap permasalahan yang dilaporkan masyarakat,” tutup Abi.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.






































