Poin Utama:
- Armada Siaga: Lebih dari 20 unit pompa air mobile dikerahkan penuh oleh DBMSDA Kota Bekasi.
- Lokasi Terdampak: Genangan air dilaporkan terjadi merata di 12 Kecamatan se-Kota Bekasi akibat hujan ekstrem.
- Waktu Kejadian: Penanganan intensif dilakukan sejak Kamis (22/01) hingga Jumat (23/01/2026).
- Strategi: Penerjunan personel URC mendampingi setiap unit pompa untuk respon cepat (bahkan sebelum hujan turun).
Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi bergerak cepat merespons cuaca ekstrem yang melanda wilayah Jabodetabek dalam dua hari terakhir.
Sebanyak lebih dari 20 unit pompa air mobile disiagakan dan dioperasikan penuh untuk menyedot genangan banjir yang merendam sejumlah titik di 12 kecamatan se-Kota Bekasi, Jumat (23/01/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagaimana Strategi Pemkot Bekasi Menangani Banjir Saat Cuaca Ekstrem?
Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi melalui DBMSDA menerapkan strategi jemput bola dengan menyiagakan personel dan alat berat sebelum debit air meningkat drastis.
Kepala DBMSDA Kota Bekasi, Idi Sutanto, memastikan seluruh aset penanggulangan banjir telah diterjunkan ke titik-titik rawan.
”Sehingga Tim URC kita turut disiapsiagakan dan juga termasuk kesiapan seluruh pompa yang ada langsung turun dan semuanya dioperasikan,” kata Idi Sutanto kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com melalui keterangan tertulisnya di Kota Bekasi, Jumat (23/01/2026).
Idi menjelaskan bahwa meskipun curah hujan yang turun tergolong ekstrem dan menyebabkan genangan di hampir seluruh wilayah kecamatan, kehadiran petugas di lapangan menjadi kunci pengendalian situasi. Total pompa yang beroperasi saat ini mencapai lebih dari 20 unit yang tersebar di lokasi vital.
Apa Kendala Teknis Penanganan Genangan di Lapangan?
Meskipun seluruh armada dikerahkan, kondisi di lapangan kerap kali membutuhkan penanganan taktis yang menyesuaikan situasi debit air.
Idi mencontohkan kondisi di kawasan Caman (Jalan Caman Raya, Jatibening), di mana pemompaan air tidak bisa dilakukan sembarangan jika area pembuangan sudah meluap (limpas).
Terkait sistem pompa mobile tersebut, pengoperasian dilakukan secara bertahap. Apabila air sudah melimpas di berbagai saluran pembuangan, pemompaan akan ditunda sementara untuk menghindari sirkulasi air yang sia-sia (backflow).
”Kalau sudah limpas di mana-mana, mau dipompa ke mana juga percuma, airnya muter-muter di situ. Seperti semalam di Caman, kita nunggu dulu, setelah kondisi memungkinkan baru langsung kita pompa,” jelas Idi.
Sejauh Mana Efektivitas Tim URC Mengurangi Keluhan Warga?
Kecepatan respons petugas Tim Unit Reaksi Cepat (URC) dinilai efektif meredam kepanikan dan komplain masyarakat.
Menurut Idi, instruksi siaga diberikan tidak hanya saat hujan turun, melainkan sejak tanda-tanda cuaca memburuk terlihat. Setiap titik genangan dipastikan memiliki personel yang mendampingi operasional pompa.
”Karena setiap ada genangan pasti ada personel kita yang mengoperasikan pompa. Setiap terjadi hujan, bahkan sebelum hujan, kita sudah bergerak,” tambahnya.
Langkah preventif dan kehadiran fisik petugas di lokasi banjir terbukti membangun kepercayaan publik. Idi mengklaim minimnya komplain negatif dari warga meskipun genangan terjadi di 12 kecamatan.
”Kalau masyarakat mau komplain atau marah, tapi melihat ada orang kita di lapangan, itu sudah cukup buat mereka,” tutup Idi.
Pemkot Bekasi terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan susulan dan menjaga kebersihan saluran air di lingkungan masing-masing.
Sinergi antara pemerintah dan warga diharapkan dapat meminimalisir dampak banjir di masa mendatang.
Punya informasi titik banjir yang belum tertangani di wilayah Anda? Segera laporkan melalui layanan Call Center 112 Kota Bekasi atau hubungi media sosial resmi Pemkot Bekasi.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







































