Poin Utama:
- Kasus Kematian: Satu pasien dengan gejala Influenza A H3N2 (Superflu) meninggal dunia di RSHS Bandung.
- Total Pasien: RSHS melaporkan telah menangani total 10 pasien dengan gejala serupa.
- Faktor Penyebab: Rumah sakit belum memastikan penyebab tunggal kematian karena adanya komorbid berat (Gagal Jantung, Stroke, Gagal Ginjal).
- Respon DPR: Komisi IX DPR RI mendesak Kemenkes memperkuat sistem surveilans epidemiologi dan deteksi dini.
Kabar duka datang dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, di mana seorang pasien dengan gejala Influenza A H3N2 subclade K atau ‘Superflu’ dilaporkan meninggal dunia, Jumat (09/01/2026).
Peristiwa ini memicu kewaspadaan nasional, termasuk bagi warga Kota Bekasi, agar lebih memperhatikan kesehatan di tengah potensi ancaman penyakit menular.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Apakah Superflu Menjadi Penyebab Utama Kematian?
Pihak RSHS Bandung menegaskan bahwa pihaknya belum dapat menyimpulkan secara tunggal apakah infeksi Superflu menjadi penyebab utama kematian pasien tersebut.
Berdasarkan rekam medis, pasien diketahui memiliki riwayat penyakit bawaan (komorbid) yang tergolong berat sebelum mendapatkan perawatan intensif.
”Kalau kita lihat dari data yang ada, itu ada dua yang berat. Satu masuk ke ruang high care dan satu masuk ke ruang intensif. Dan satu yang masuk ke ruang intensif memang terus dinyatakan meninggal karena disebabkan ada komorbid yang lain,” kata Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging (Pinere) RSHS, dr Yovita Hartantri kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com melalui keterangan tertulisnya, Jumat (09/01/2026).
Dokter Yovita merinci bahwa komplikasi penyakit yang diderita pasien cukup kompleks, sehingga virus influenza mungkin bukan satu-satunya faktor fatalitas.
”Ada stroke, ada gagal jantung dan terakhir karena ada infeksi dan ada gagal ginjal juga. Jadi apakah itu langsung disebabkan oleh virus? Kita tidak bisa menyatakan karena memang dia mungkin komorbid yang banyak,” sambungnya.
Bagaimana Langkah Mitigasi yang Disiapkan Pemerintah?
Merespons temuan kasus ini, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI segera bereaksi. Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk segera memperkuat sistem surveilans epidemiologi.
Menurutnya, deteksi dini di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes), mulai dari Puskesmas hingga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), adalah kunci untuk mencegah penyebaran yang lebih luas.
”Kami mendorong Kementerian Kesehatan untuk memperkuat sistem surveilans epidemiologi, meningkatkan deteksi dini di fasilitas pelayanan kesehatan, serta memastikan kesiapan layanan primer dan rumah sakit, terutama dalam melindungi kelompok rentan,” tegas Nurhadi.
Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat?
Selain kesiapan teknis medis, edukasi kepada masyarakat dinilai sangat krusial. Informasi mengenai gejala awal Influenza A H3N2 harus disebarluaskan tanpa memicu kepanikan berlebih.
Nurhadi memastikan parlemen akan terus mengawasi perkembangan kasus ini. Jika eskalasi kasus meningkat, DPR RI siap memanggil Kemenkes untuk meminta pertanggungjawaban terkait strategi pencegahan jangka menengah dan ketersediaan obat-obatan.
”Negara harus hadir memastikan masyarakat terlindungi dan sistem kesehatan kita benar-benar siap menghadapi potensi ancaman penyakit menular,” pungkasnya.
Kasus kematian ini menjadi pengingat bagi warga, khususnya di wilayah aglomerasi seperti Kota Bekasi, untuk tetap menjaga protokol kesehatan dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala flu berat.
Punya keluhan layanan kesehatan di Puskesmas atau RSUD Kota Bekasi? Laporkan segera melalui layanan pengaduan Pemkot Bekasi di Call Center 112.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




































