Tak Cuma Bising, Pengamat UI: Lapangan Padel Bisa Picu Gesekan Sosial

- Jurnalis

Jumat, 20 Februari 2026 - 18:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi aktivitas olahraga Padel yang kini tengah digandrungi masyarakat dan resmi menjadi objek pajak baru Pemerintah Kota Bekasi mulai akhir tahun 2025.

Ilustrasi aktivitas olahraga Padel yang kini tengah digandrungi masyarakat dan resmi menjadi objek pajak baru Pemerintah Kota Bekasi mulai akhir tahun 2025.

Poin Utama:

  • Fenomena: Tren olahraga padel kian menjamur, menyasar lahan-lahan sempit di tengah kawasan permukiman perkotaan.
  • Potensi Konflik: Selain polusi suara, kehadiran fasilitas olahraga premium memicu kecemburuan sosial warga sekitar.
  • Saran Lokasi: Investor disarankan memilih area komersial, perkantoran, atau apartemen.
  • Perizinan: Pemkot Bekasi didesak untuk memperketat kajian dampak lingkungan sebelum menerbitkan izin bagi tempat usaha rintisan ini.

​Tren olahraga padel yang kian menjamur di kawasan perkotaan, termasuk di wilayah permukiman padat penduduk Bekasi, berpotensi memicu kecemburuan sosial dan konflik lingkungan.

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia (UI), Rissalwan Handy Lubis, mendesak pemerintah daerah dan pihak investor untuk lebih cermat menghitung dampak sosial dari kehadiran fasilitas olahraga eksklusif tersebut di tengah masyarakat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Mengapa Lapangan Padel di Permukiman Memicu Kecemburuan Sosial?

​Kehadiran sarana olahraga padel di permukiman sering kali memicu kesenjangan sosial karena citranya sebagai gaya hidup kelas menengah ke atas.

​“Memang padel ini lagi banyak ya jadi tren ya. Dan kita tahu kan sebetulnya padel ini olahraga baru menengah ke atas gitu,” kata Rissalwan Handy Lubis kepada Inilah.Com melalui sambungan telepon dikutip Jurnalis RakyatBekasi.Com, Jumat (20/02/2026).

​Fasilitas mentereng yang ditawarkan, mulai dari ruang mandi premium, kafe kekinian, hingga jejeran mobil mewah di area parkir, kerap berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi warga setempat.

Pemandangan mencolok ini tidak hanya sekadar soal perizinan, tetapi menciptakan rasa ketidaknyamanan psikologis bagi masyarakat kelas bawah yang tinggal tepat di sebelahnya.

​Apa Dampak Negatif Lapangan Padel Dekat Rumah Warga?

​Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan memaksa banyak investor membuka penyewaan lapangan di sela-sela perumahan warga, seperti yang kerap dikeluhkan di area padat Rawalumbu hingga Pondokgede.

Praktik ini memunculkan sejumlah dampak negatif yang langsung dirasakan oleh warga, antara lain:

  • Polusi Kebisingan: Suara pukulan bola dan keriuhan pemain sangat mengganggu waktu istirahat warga.
  • Kepadatan Lalu Lintas: Kendaraan pengunjung yang parkir berpotensi memakan badan jalan lingkungan.
  • Perubahan Fungsi Sosial: Tempat olahraga ini sering berubah menjadi area nongkrong atau kafe yang beroperasi hingga larut.

​”Jadi lebih banyak ngobrolnya, kongko-kongkonya. Tempat orang berpukul-pukulan sebentar, tapi kemudian nanti lebih banyak ngobrolnya. Jadi kalau kita lihat tempat padel sebetulnya kafe,” urai Rissalwan lebih lanjut.

​Di Mana Lokasi Ideal untuk Membangun Lapangan Padel?

​Penyedia jasa penyewaan lapangan padel idealnya menempatkan bisnis mereka di area komersial khusus, bukan di dalam kluster perumahan warga.

Rissalwan membandingkannya dengan olahraga golf yang sejak awal dikonsep untuk kawasan premium dan tidak membaur dengan permukiman padat.

​Pengembangan di gedung komersial, area dekat perkantoran, atau apartemen dinilai lebih tepat sasaran.

Pemkot Bekasi, melalui regulasi yang diinstruksikan Wali Kota, kata dia, diharapkan mampu mengawasi penataan tata ruang ini secara ketat demi meminimalisasi gesekan.

​”Artinya memang sah-sah saja orang berolahraga, tapi tolong perhatikan dampak pada kesenjangan sosial yang terjadi,” tegasnya.

​Keselarasan antara perkembangan tren bisnis gaya hidup dan kenyamanan lingkungan harus tetap menjadi prioritas utama. Pertumbuhan ekonomi di sektor jasa olahraga tidak boleh mengorbankan ketenteraman warga lokal.

​Apakah lingkungan tempat tinggal Anda ikut terdampak oleh pembangunan fasilitas komersial yang tidak sesuai peruntukan? Segera laporkan keluhan layanan publik dan indikasi pelanggaran tata ruang di lingkungan Anda melalui portal pengaduan resmi Pemkot Bekasi atau sampaikan aspirasi Anda di kolom komentar!


Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Follow WhatsApp Channel rakyatbekasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sejarah Jalan Sunan Kudus: Jejak Panglima Ulama Pelopor Toleransi
Sejarah Jalan Sunan Kalijaga: Jejak Dakwah Kultural Walisongo di Jakarta Timur
Promo Bright Gas Bekasi Spesial HUT RI: Diskon Isi Ulang Hingga Rp8.100
Sejarah Jalan Sunan Drajat: Jejak Ulama Pemersatu Lewat Gamelan Singa Mengkok
Sejarah Jalan Sunan Bonang: Dakwah Kultural Pencipta Tombo Ati
5 Tahun Berjalan, Alfamidi Berangkatkan 101 Karyawan Umrah
Link Live Streaming dan Jadwal Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026
Sejarah Jalan Sunan Ampel: Jejak Dakwah dan Falsafah Moh Limo
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

0 Comments

Berita Terkait

Jumat, 14 Agustus 2026 - 12:14 WIB

Sejarah Jalan Sunan Kudus: Jejak Panglima Ulama Pelopor Toleransi

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:15 WIB

Sejarah Jalan Sunan Kalijaga: Jejak Dakwah Kultural Walisongo di Jakarta Timur

Kamis, 13 Agustus 2026 - 07:16 WIB

Promo Bright Gas Bekasi Spesial HUT RI: Diskon Isi Ulang Hingga Rp8.100

Rabu, 12 Agustus 2026 - 15:58 WIB

Sejarah Jalan Sunan Drajat: Jejak Ulama Pemersatu Lewat Gamelan Singa Mengkok

Selasa, 11 Agustus 2026 - 16:45 WIB

Sejarah Jalan Sunan Bonang: Dakwah Kultural Pencipta Tombo Ati

Berita Terbaru

Anggota Komisi IV DPRD Kota Bekasi, Ahmadi Madong, saat memberikan keterangan terkait evaluasi kinerja Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi di Gedung DPRD Kota Bekasi, Jumat (14/08/2026).

Parlementaria

Rekomendasi Diabaikan Dinkes, DPRD Kota Bekasi Berang!

Jumat, 14 Agu 2026 - 18:04 WIB

Pengurus DPP PA GMNI berdiri tegap saat menyanyikan lagu Indonesia Raya di Sekretariat DPP PA GMNI, Jakarta Pusat, Kamis (13/08/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari siaran pers menyambut HUT ke-81 RI yang mendesak stop utang dan politik dinasti.

Nasional

Kritik Keras PA GMNI: Jabatan Publik Bukan Hadiah Politik!

Jumat, 14 Agu 2026 - 17:24 WIB

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x