Poin Utama:
- Fenomena: Tren olahraga padel kian menjamur, menyasar lahan-lahan sempit di tengah kawasan permukiman perkotaan.
- Potensi Konflik: Selain polusi suara, kehadiran fasilitas olahraga premium memicu kecemburuan sosial warga sekitar.
- Saran Lokasi: Investor disarankan memilih area komersial, perkantoran, atau apartemen.
- Perizinan: Pemkot Bekasi didesak untuk memperketat kajian dampak lingkungan sebelum menerbitkan izin bagi tempat usaha rintisan ini.
Tren olahraga padel yang kian menjamur di kawasan perkotaan, termasuk di wilayah permukiman padat penduduk Bekasi, berpotensi memicu kecemburuan sosial dan konflik lingkungan.
Pengamat sosial dari Universitas Indonesia (UI), Rissalwan Handy Lubis, mendesak pemerintah daerah dan pihak investor untuk lebih cermat menghitung dampak sosial dari kehadiran fasilitas olahraga eksklusif tersebut di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengapa Lapangan Padel di Permukiman Memicu Kecemburuan Sosial?
Kehadiran sarana olahraga padel di permukiman sering kali memicu kesenjangan sosial karena citranya sebagai gaya hidup kelas menengah ke atas.
“Memang padel ini lagi banyak ya jadi tren ya. Dan kita tahu kan sebetulnya padel ini olahraga baru menengah ke atas gitu,” kata Rissalwan Handy Lubis kepada Inilah.Com melalui sambungan telepon dikutip Jurnalis RakyatBekasi.Com, Jumat (20/02/2026).
Fasilitas mentereng yang ditawarkan, mulai dari ruang mandi premium, kafe kekinian, hingga jejeran mobil mewah di area parkir, kerap berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi warga setempat.
Pemandangan mencolok ini tidak hanya sekadar soal perizinan, tetapi menciptakan rasa ketidaknyamanan psikologis bagi masyarakat kelas bawah yang tinggal tepat di sebelahnya.
Apa Dampak Negatif Lapangan Padel Dekat Rumah Warga?
Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan memaksa banyak investor membuka penyewaan lapangan di sela-sela perumahan warga, seperti yang kerap dikeluhkan di area padat Rawalumbu hingga Pondokgede.
Praktik ini memunculkan sejumlah dampak negatif yang langsung dirasakan oleh warga, antara lain:
- Polusi Kebisingan: Suara pukulan bola dan keriuhan pemain sangat mengganggu waktu istirahat warga.
- Kepadatan Lalu Lintas: Kendaraan pengunjung yang parkir berpotensi memakan badan jalan lingkungan.
- Perubahan Fungsi Sosial: Tempat olahraga ini sering berubah menjadi area nongkrong atau kafe yang beroperasi hingga larut.
”Jadi lebih banyak ngobrolnya, kongko-kongkonya. Tempat orang berpukul-pukulan sebentar, tapi kemudian nanti lebih banyak ngobrolnya. Jadi kalau kita lihat tempat padel sebetulnya kafe,” urai Rissalwan lebih lanjut.
Di Mana Lokasi Ideal untuk Membangun Lapangan Padel?
Penyedia jasa penyewaan lapangan padel idealnya menempatkan bisnis mereka di area komersial khusus, bukan di dalam kluster perumahan warga.
Rissalwan membandingkannya dengan olahraga golf yang sejak awal dikonsep untuk kawasan premium dan tidak membaur dengan permukiman padat.
Pengembangan di gedung komersial, area dekat perkantoran, atau apartemen dinilai lebih tepat sasaran.
Pemkot Bekasi, melalui regulasi yang diinstruksikan Wali Kota, kata dia, diharapkan mampu mengawasi penataan tata ruang ini secara ketat demi meminimalisasi gesekan.
”Artinya memang sah-sah saja orang berolahraga, tapi tolong perhatikan dampak pada kesenjangan sosial yang terjadi,” tegasnya.
Keselarasan antara perkembangan tren bisnis gaya hidup dan kenyamanan lingkungan harus tetap menjadi prioritas utama. Pertumbuhan ekonomi di sektor jasa olahraga tidak boleh mengorbankan ketenteraman warga lokal.
Apakah lingkungan tempat tinggal Anda ikut terdampak oleh pembangunan fasilitas komersial yang tidak sesuai peruntukan? Segera laporkan keluhan layanan publik dan indikasi pelanggaran tata ruang di lingkungan Anda melalui portal pengaduan resmi Pemkot Bekasi atau sampaikan aspirasi Anda di kolom komentar!
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















