KOTA BEKASI – Sebagai kota penyangga utama yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, Kota Bekasi kini tengah mengakselerasi langkahnya untuk bertransformasi menjadi smart city (kota cerdas).
Pemerintah Kota Bekasi fokus pada perbaikan fundamental, mulai dari peningkatan infrastruktur fisik hingga digitalisasi pelayanan publik guna menunjang mobilitas dan kenyamanan warganya.
Langkah strategis awal yang tengah digenjot meliputi penambahan Ruang Terbuka Hijau (RTH), peremajaan trotoar yang ramah pejalan kaki, serta penerapan sistem ducting untuk menata kesemerawutan kabel fiber optik di udara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Solusi Estetika dan Keselamatan Warga
Keberadaan kabel udara yang semrawut seringkali menjadi keluhan utama masyarakat perkotaan. Menanggapi hal ini, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menegaskan bahwa penataan kota melalui sistem ducting (penanaman kabel di bawah tanah) bukan hanya soal mempercantik wajah kota, tetapi juga menyangkut keselamatan nyawa.

Tri menjelaskan bahwa sistem ducting diyakini mampu meningkatkan estetika visual kota secara signifikan sekaligus meminimalisir risiko kecelakaan yang diakibatkan oleh kabel yang menjuntai rendah di ruang publik.
“Ducting ini utamanya berkaitan dengan estetika dan upaya meminimalisir potensi kecelakaan. Dalam beberapa kasus, kabel yang semrawut bahkan sampai menimbulkan korban jiwa. Karena itu, perlu ada langkah strategis dan percepatan agar Bekasi menjadi kota yang modern dan aman bagi warganya,” ujar Tri Adhianto.
Investasi Rp180 Miliar Tanpa Bebani APBD
Salah satu poin menarik dari proyek ambisius ini adalah skema pendanaannya. Wali Kota Bekasi menegaskan bahwa proyek infrastruktur telekomunikasi ini tidak akan membebani keuangan daerah.
“Proyek ducting ini tidak menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD),” tegas Tri.
Ia merinci bahwa investasi untuk tahap pertama proyek ini diproyeksikan mencapai Rp180 miliar. Angka ini mencakup pembangunan infrastruktur dasar di beberapa wilayah prioritas.
“Jika tahap awal berjalan lancar, pembangunan akan dilanjutkan ke tahap berikutnya hingga mencakup seluruh wilayah kota. Adapun lokasi awal yang akan diterapkan meliputi wilayah Medansatria, Bekasi Barat, dan Bekasi Utara,” jelasnya.
Kolaborasi BUMD dan Pihak Ketiga
Dalam pelaksanaannya, Pemerintah Kota Bekasi menggandeng Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), PT Mitra Patriot. Direktur Utama PT Mitra Patriot, David Rahardja, menyatakan kesiapan penuh pihaknya untuk mendukung pembangunan kota yang tertata rapi dan selaras dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
“Proyek ducting ini adalah wujud nyata komitmen kami. Kami menyediakan fasilitas penempatan kabel telekomunikasi, khususnya fiber optik, yang ditanam di bawah tanah. Ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan inisiatif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Bekasi,” ungkap David.
David menambahkan bahwa proyek ini akan membuka peluang kerja sama dengan mitra strategis yang memiliki kompetensi di bidang infrastruktur jaringan.
Target Realisasi Awal 2026
Mengingat urgensi penataan kota, proses administrasi dan teknis akan segera dilaksanakan. David memaparkan timeline pelaksanaan proyek yang cukup ketat.
“Kami menargetkan proses pemilihan mitra dimulai pada Desember 2025 atau selambat-lambatnya Januari 2026,” paparnya.
Setelah mitra terpilih, langkah selanjutnya adalah formalisasi kerja sama dan dimulainya konstruksi fisik.
“Penandatanganan perjanjian kerja sama dan peletakan batu pertama (groundbreaking) direncanakan pada Februari atau paling lambat Maret 2026,” pungkas David.
Dengan adanya transformasi ini, Kota Bekasi diharapkan tidak hanya menjadi kota satelit bagi Jakarta, melainkan tumbuh menjadi kota mandiri yang modern, estetik, dan manusiawi bagi seluruh penduduknya.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.






































