oleh: Nayla Nurhaliza [Mahasiswa Universitas Pamulang prodi Akuntansi]
Ke Mana Perginya Premi yang Dibayarkan?
Pernah bertanya-tanya ke mana uang premi yang kamu bayarkan setiap bulan ke perusahaan asuransi? Apakah langsung menjadi keuntungan mereka, atau disimpan untuk membayar klaim nasabah lain?
Ternyata, pencatatan premi dan klaim asuransi tidak sesederhana itu. Di balik transaksi tersebut, ada proses akuntansi yang rumit dan harus sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 36, yang mengatur pencatatan kontrak asuransi jiwa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Apa Itu Premi Asuransi dan Bagaimana Cara Mencatatnya?
Premi adalah biaya yang dibayarkan secara rutin oleh nasabah kepada perusahaan asuransi sebagai bentuk perlindungan. Namun, dalam dunia akuntansi, premi tidak langsung dianggap sebagai pendapatan penuh. Berdasarkan PSAK No. 36, pencatatan premi tergantung pada jenis kontrak:
- Kontrak jangka pendek → Premi mulai dicatat saat polis berlaku.
- Kontrak jangka panjang → Premi diakui saat pembayaran dilakukan atau saat perpanjangan polis.
Pencatatan premi harus menggunakan prinsip akrual, yang berarti meskipun uang belum diterima, jika haknya sudah muncul, maka harus dicatat. Hal ini penting agar laporan keuangan mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara lebih akurat.
Contoh Pencatatan Premi:
(D) Kas / Piutang Premi
(K) Pendapatan Premi
Bagaimana dengan Klaim Asuransi?
Klaim adalah hak nasabah yang harus dipenuhi oleh perusahaan asuransi saat terjadi kejadian yang ditanggung polis. Dalam akuntansi, klaim tidak hanya sekadar pembayaran, tetapi juga harus dicatat sebagai beban dalam laporan keuangan.
Menurut PSAK No. 36, klaim dapat diakui dalam tiga kondisi utama:
- Klaim sudah disetujui (settled claims).
- Klaim masih dalam proses (outstanding claims).
- Klaim belum dilaporkan tetapi kemungkinan besar terjadi (IBNR – Incurred But Not Reported).
Jika perusahaan asuransi bekerja sama dengan reasuransi (asuransi untuk asuransi), klaim yang dibayar oleh reasuradur dapat dicatat sebagai pengurang beban klaim.
Contoh Pencatatan Klaim:
(D) Beban Klaim
(K) Utang Klaim / Kas
Mengapa Pencatatan Premi dan Klaim Harus Akurat?
Pencatatan premi dan klaim bukan sekadar formalitas, tetapi memiliki dampak besar bagi perusahaan asuransi. Beberapa alasan utama mengapa pencatatan yang akurat sangat penting:
- Menjaga transparansi bagi investor dan nasabah.
- Menilai kesehatan keuangan perusahaan asuransi.
- Menghindari manipulasi laporan keuangan, yang dapat menyesatkan pemangku kepentingan.
Jika premi dicatat terlalu besar padahal belum pasti, atau klaim tidak diakui padahal kemungkinan besar terjadi, maka laporan keuangan bisa memberikan gambaran yang tidak akurat.
Kesimpulan: Akuntansi Asuransi Itu Serius!
Di balik layanan asuransi yang terlihat sederhana bagi nasabah, terdapat sistem akuntansi yang kompleks dan terstruktur.
Pencatatan yang akurat sesuai PSAK No. 36 menjadi fondasi penting agar perusahaan tetap sehat, dipercaya, dan bertanggung jawab secara finansial.
Jadi, lain kali kamu membayar premi atau mengajukan klaim, ingatlah bahwa ada proses akuntansi yang bekerja di balik layar untuk memastikan semuanya tercatat dengan rapi!
Eksplorasi konten lain dari RakyatBekasi.Com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
Penulis : Nayla Nurhaliza [Mahasiswa Universitas Pamulang prodi Akuntansi]
Editor : Bung Ewox







































