JAKARTA – Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot harus puas berakhir di zona merah pada perdagangan Selasa (20/1/2026). Di tengah fluktuasi pasar global dan dinamika sentimen domestik, mata uang Garuda tercatat melemah tipis.
Berdasarkan data pasar, rupiah terkoreksi 1 poin atau setara 0,01 persen ke level Rp16.956 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini menunjukkan tekanan yang masih membayangi mata uang domestik meskipun indeks dolar AS di pasar global cenderung bervariasi.
Posisi Rupiah di Kurs Tengah BI (Jisdor)
Kondisi serupa juga tercermin pada kurs referensi Bank Indonesia (BI), yakni Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Data BI menempatkan rupiah pada posisi Rp16.981 per dolar AS pada perdagangan sore ini, sedikit melemah dibandingkan perdagangan sebelumnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Posisi ini mengonfirmasi bahwa tekanan terhadap rupiah terjadi secara merata, baik di pasar spot maupun kurs tengah.
Peta Pergerakan Mata Uang Asia dan Global
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terhadap the greenback (dolar AS) cenderung bervariasi (mixed). Beberapa mata uang berhasil mencatatkan penguatan, sementara yang lain justru terperosok ke zona merah.
Tren Asia:
- Baht Thailand: Menguat 0,36 persen.
- Yuan China: Menguat tipis 0,05 persen.
- Won Korea Selatan: Memimpin pelemahan dengan anjlok 0,43 persen.
- Yen Jepang: Tertekan sebesar 0,26 persen.
- Dolar Singapura: Turun 0,09 persen.
Tren Negara Maju:
Berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang Asia, mata uang negara maju justru kompak menekan dolar AS. Dolar Australia memimpin apresiasi dengan kenaikan 0,42 persen, disusul oleh Franc Swiss yang naik 0,35 persen, Euro Eropa menguat 0,32 persen, serta Poundsterling Inggris yang terapresiasi 0,24 persen.
Sentimen Pasar: Menanti RDG BI dan Isu Independensi
Pelemahan rupiah hari ini tidak lepas dari kombinasi faktor teknikal dan sentimen fundamental dari dalam negeri. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan pandangannya terkait pemicu utama koreksi ini.
1. Sikap Wait and See Jelang RDG
Menurut Lukman, para investor cenderung mengambil sikap wait and see atau menahan diri menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Rapat bulanan ini sangat dinanti pasar untuk mengetahui arah kebijakan suku bunga acuan (BI Rate) di awal tahun 2026, yang akan diumumkan esok hari.
2. Kekhawatiran Independensi Bank Indonesia
Selain faktor kebijakan moneter murni, pasar juga tengah mencermati dinamika politik domestik yang sensitif. Sorotan utama tertuju pada isu transisi kepemimpinan di tubuh bank sentral.
”Rupiah terbebani oleh berita pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI. Hal ini memicu kekhawatiran pasar terkait aspek independensi Bank Indonesia ke depannya,” ungkap Lukman, Selasa (20/1/2026).
Isu independensi bank sentral merupakan hal krusial bagi investor asing. Kekhawatiran akan adanya intervensi fiskal dalam kebijakan moneter dapat menurunkan kepercayaan pasar terhadap aset berdenominasi rupiah.
Proyeksi Pergerakan Rupiah
Secara teknikal, pergerakan kurs rupiah diprediksi masih akan fluktuatif dalam jangka pendek. Pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada hingga pengumuman resmi suku bunga acuan BI dirilis. Respons pasar terhadap isu transisi di otoritas moneter juga akan menjadi penentu arah mata uang Garuda dalam beberapa hari ke depan.
Ingin mendapatkan update terbaru seputar ekonomi dan kebijakan moneter? Pantau terus perkembangan berita terkini hanya di portal berita kami.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.






































