Poin Utama:
- Posisi Terkini: Rupiah ditutup pada level Rp16.896/US$ pada perdagangan Kamis (15/01/2026).
- Prediksi Pelemahan: Berpotensi menembus level psikologis Rp17.100/US$ pekan ini dan Rp17.500/US$ pada tahun ini.
- Faktor Pemicu: Perang dagang (China-EU-AS), ketegangan geopolitik (Rusia-Ukraina, Timur Tengah), dan dinamika politik internal AS.
Nilai tukar (kurs) Rupiah terhadap Dolar AS (US$) diprediksi kembali melemah dan berpotensi menembus angka psikologis Rp17.000 pada pekan ini.
Tren negatif ini dipicu oleh memanasnya situasi geopolitik global serta ketidakpastian kebijakan ekonomi dari negara-negara maju yang menekan mata uang garuda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berapa Prediksi Level Terendah Rupiah Pekan Ini?
Analisis teknikal menunjukkan bahwa mata uang Garuda sedang dalam tren pelemahan yang cukup signifikan setelah penutupan perdagangan Kamis (15/01) di level Rp16.896/US$.
Jika tren negatif berlanjut, Rupiah diproyeksikan akan menyentuh level support mingguan di angka Rp17.100.
”Sebaliknya, jika (rupiah) melemah, resistance pertama di Rp16.920. Potensi pelemahan lanjutan secara mingguan di Rp17.100 per dolar AS,” kata Ibrahim Assuaibi kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (18/01/2026).
Ibrahim menambahkan, tekanan eksternal yang semakin kuat bahkan memunculkan risiko pelemahan jangka panjang di tahun 2026.
Menurutnya, bukan tidak mungkin kurs akan menyentuh angka yang lebih dalam lagi jika sentimen global tidak membaik.
”Ketidakpastian geopolitik, dinamika politik AS, serta arah kebijakan bank sentral global, berpotensi menekan rupiah. Muncul risiko pelemahan lanjutan hingga Rp17.500 per dolar AS di tahun ini,” terangnya.
Apa Penyebab Utama Rupiah Melemah?
Faktor dominan yang menghantam Rupiah adalah eskalasi perang dagang global dan konflik bersenjata yang meluas.
Kebijakan Uni Eropa yang memberlakukan bea masuk antidumping terhadap produk alumina China sebesar 88,7-110,6 persen menjadi salah satu pemicu utama, yang diperkirakan akan segera dibalas oleh China.
Selain itu, rencana Amerika Serikat (AS) untuk mengenakan tarif impor 20 persen terhadap produk Eropa turut memperkeruh suasana.
Situasi ini diperparah dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa, khususnya konflik Rusia-Ukraina yang kembali memanas dengan intensitas serangan balasan tinggi, serta isu keamanan di Greenland yang melibatkan pengerahan pasukan negara-negara NATO.
Bagaimana Dampak Politik AS Terhadap Ekonomi Global?
Stabilitas politik di Amerika Serikat juga menjadi sorotan pasar yang mempengaruhi fluktuasi mata uang. Rencana pemanggilan Ketua The Fed, Jerome Powell, serta sejumlah pejabat otoritas AS lainnya dinilai sarat kepentingan politik dan berpotensi mengganggu independensi bank sentral.
Meski demikian, data tenaga kerja AS yang menunjukkan perbaikan masih memberikan sedikit harapan.
Sejumlah pejabat bank sentral AS mengisyaratkan adanya ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter atau penurunan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan, terutama menjelang akhir masa jabatan Jerome Powell.
Masyarakat dan pelaku usaha diimbau untuk tetap waspada terhadap volatilitas nilai tukar dan melakukan lindung nilai (hedging) jika diperlukan, mengingat ketidakpastian global yang masih tinggi.
Punya informasi terkait dampak kenaikan dolar terhadap harga bahan pokok di pasar Bekasi? Hubungi Redaksi RakyatBekasi.Com.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







































