Poin Utama Proyek PSEL Bekasi:
- Jadwal: Pengumuman pemenang tender pertengahan Februari 2026, konstruksi dimulai Maret 2026.
- Lokasi Prioritas: Kota Bekasi, Bogor, Denpasar, dan Yogyakarta.
- Kapasitas: Mampu mengolah 1.000–1.500 ton sampah per hari dengan estimasi produksi listrik 20 MW.
- Investasi: Membutuhkan biaya sekitar Rp 2–3 triliun per unit fasilitas.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Indonesia memastikan wilayah Bekasi Raya menjadi salah satu prioritas utama dalam pembangunan proyek Waste to Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
Kepastian ini menyusul rencana pengumuman hasil lelang tahap pertama yang dijadwalkan pada pertengahan Februari 2026, dengan target peletakan batu pertama konstruksi pada bulan Maret mendatang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kapan Proyek PSEL di Bekasi Akan Dimulai?
Proses pembangunan fisik ditargetkan segera berjalan setelah pemenang tender ditetapkan. Lead of Waste to Energy BPI Danantara Indonesia, Fadli Rahman, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya tengah memfinalisasi seleksi tahap akhir sebelum pengumuman resmi.
”Pertengahan Februari pengumumannya, lalu konstruksi dimulai sekitar Maret,” kata Fadli Rahman kepada Jurnalis RakyatBekasi.Com di Jakarta, Jumat (23/01/2026).
Pembangunan fasilitas ini diperkirakan memakan waktu pengerjaan (konstruksi) sekitar 1,5 hingga dua tahun hingga dapat beroperasi penuh melayani kebutuhan pengelolaan sampah di daerah prioritas, termasuk Bekasi.
Siapa yang Akan Mengerjakan Proyek Ini?
Danantara menerapkan seleksi ketat terhadap calon pengembang. Dari total 200 perusahaan yang terdaftar dalam Daftar Penyedia Teknologi (DPT), BPI Danantara telah mengerucutkan pilihan menjadi 24 perusahaan asing yang berasal dari China, Prancis, dan Jepang.
Perusahaan asing tersebut diwajibkan membentuk konsorsium dengan mitra perusahaan lokal. Fadli menegaskan bahwa pihaknya melakukan peninjauan ulang (review) mendalam untuk menjamin kualitas mitra lokal yang digandeng.
”Kami pastikan mitra lokalnya benar-benar mumpuni,” tegas Fadli.
Berapa Kapasitas dan Nilai Investasi PSEL?
Proyek ini dirancang untuk menjadi solusi masif penanganan sampah perkotaan. Mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang percepatan proyek PSEL, spesifikasi teknis dan biaya yang disiapkan adalah sebagai berikut:
- Kapasitas Olah: 1.000 hingga 1.500 ton sampah per hari.
- Output Energi: Menghasilkan listrik sekitar 20 Megawatt (MW).
- Nilai Investasi: Rp 2 triliun hingga Rp 3 triliun per unit.
- Target Nasional: Pembangunan 33 unit hingga tahun 2029, dengan 7 unit dimulai pada 2026 (termasuk di Bekasi Raya).
Apakah PSEL Menjadi Solusi Tunggal Masalah Sampah?
Meskipun teknologi ini canggih, PSEL bukan satu-satunya jawaban atas krisis sampah nasional yang mencapai 140.000 ton per hari pada data tahun 2025. Fadli menyebut kontribusi PSEL diperkirakan baru mencakup 30 persen dari total volume sampah.
Senior Researcher Tenggara Strategics, Intan Salsabila Firman, menambahkan bahwa keberhasilan proyek ini tidak hanya bergantung pada mesin, tetapi juga penerimaan masyarakat.
”Tantangannya bukan hanya teknologi, tapi integrasi kebijakan dan penerimaan publik,” ujarnya.
Indonesia sendiri mencatat timbulan sampah 56,98 juta ton per tahun, di mana sistem open dumping di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) masih mendominasi dan memicu emisi gas rumah kaca serta risiko kesehatan bagi warga sekitar.
Kehadiran PSEL di Bekasi Raya diharapkan mampu mengurangi beban volume sampah yang selama ini menumpuk di TPA Sumurbatu maupun TPA Burangkeng.
Namun, peran serta masyarakat dalam memilah sampah dari sumber tetap menjadi kunci utama keberhasilan pengelolaan lingkungan.
Warga Bekasi, mari dukung program ini dengan mulai memilah sampah organik dan anorganik dari rumah Anda sekarang juga!
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.







































