BEKASI – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi mengeluarkan imbauan serius kepada seluruh elemen masyarakat, terutama para orang tua, untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak.
Seruan ini muncul menyusul lonjakan drastis angka kasus Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) yang dilaporkan mencapai 5.632 kasus di wilayah Kota Bekasi sepanjang tahun 2024, sebuah peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Lonjakan Kasus yang Mengkhawatirkan
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan laporan yang dirilis oleh MUI Kota Bekasi, terjadi peningkatan eksponensial dalam data terkait LGBT. Jika pada tahun sebelumnya tercatat hanya 544 kasus, angka di tahun 2024 meroket hingga 5.632 kasus.
Kenaikan lebih dari sepuluh kali lipat ini menjadi dasar keprihatinan mendalam bagi MUI dan berbagai pihak di Kota Bekasi.
Data terpisah yang dihimpun dari Yayasan Lembaga Kasih Indonesia Kita juga menunjukkan angka yang tak kalah mengkhawatirkan.
Laporan mereka mencatat setidaknya ada 5.776 individu gay atau Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) di wilayah tersebut, yang menyoroti salah satu kelompok paling rentan dalam penyebaran isu ini.
Seruan MUI: Peran Keluarga Adalah Kunci
Menanggapi fenomena ini, Komite Penelitian dan Pengembangan (Litbang) MUI Kota Bekasi, KH. Sohibul Wafa, menekankan pentingnya peran aktif keluarga dan lingkungan dalam melakukan tindakan preventif. Ia meminta para alim ulama, tokoh masyarakat, dan khususnya orang tua untuk tidak abai.
“Kami mengimbau dan menyerukan kepada para alim ulama serta peran keluarga, terutama orang tua, untuk melakukan pengawasan dan pemantauan ketat terhadap penyebaran kasus LGBT,” ujar KH. Sohibul Wafa kepada jurnalis rakyatbekasi.com, Minggu (21/09/2025).
Menurutnya, salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah melalui edukasi berbasis keagamaan sejak dini.
“Kami menyarankan agar kisah-kisah mengenai kaum Sodom di zaman Nabi Luth AS lebih sering diceritakan kepada anak-anak,” jelasnya.
“Ini bisa menjadi sarana edukasi untuk memperkenalkan bahayanya dan mencegah mereka terjerumus ke perilaku serupa,” ungkapnya.
Kewaspadaan Menyeluruh dan Ancaman Penyakit Turunan
Imbauan untuk waspada tidak hanya ditujukan kepada keluarga, tetapi juga kepada seluruh lapisan masyarakat, mulai dari tingkat kota hingga pengurus RT/RW. KH. Sohibul Wafa menegaskan bahwa kewaspadaan kolektif sangat diperlukan untuk melindungi generasi muda.
“Masyarakat di semua tingkatan, mulai dari tingkat kota sampai RT, harus mulai waspada,” tegasnya.
“Terutama waspada akan maraknya LGBT dan bahaya narkoba yang ada di wilayah kita, Kota Bekasi. Semoga Kota Bekasi selalu dilindungi oleh Allah SWT,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti korelasi antara perilaku LGBT, khususnya hubungan sesama jenis, dengan risiko kesehatan yang serius. Peningkatan kasus ini dikhawatirkan akan berdampak pada lonjakan penyakit menular seksual.
“Permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan penyakit masyarakat ini sangat rentan kaitannya dengan penyakit HIV/AIDS,” imbuhnya, seraya menekankan adanya ancaman kesehatan publik yang nyata di balik fenomena sosial ini.
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





































