BEKASI – Insiden dugaan keracunan yang menimpa enam siswa sekolah dasar di Kota Bekasi akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah memicu respons cepat dari pemerintah daerah.
Dinas Kesehatan (Dinkes) kini mengedukasi para penyedia makanan mengenai cara pengolahan yang aman, sementara Wali Kota Bekasi telah memanggil pihak dapur umum yang bertanggung jawab.
Peristiwa ini menjadi sorotan serius terhadap standar keamanan pangan dalam program yang bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kronologi Insiden dan Respon Wali Kota
Kejadian bermula pada Kamis, 2 Oktober 2025, ketika enam siswa dari SDN Kota Baru 3 dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu MBG di sekolah. Para siswa tersebut bahkan harus menjalani perawatan medis di RS Ananda Bekasi.
Menanggapi insiden ini, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, segera mengambil tindakan tegas dengan memanggil Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur umum yang memasok makanan tersebut.
“SPPG yang bersangkutan sudah kita panggil. Mereka juga kita minta untuk bisa lebih baik lagi dalam rangka pengelolaan makanannya,” ujar Tri Adhianto saat ditemui jurnalis rakyatbekasi.com di kawasan Car Free Day, Jalan Ahmad Yani, Minggu (05/10/2025).
Tri menegaskan bahwa kejadian ini menjadi atensi ketat bagi semua dapur umum yang terlibat dalam program MBG.
“Ini menjadi atensi ketat, terutama bagi dapur yang melakukan kesalahan terkait pengelolaan dan penyajian makanan,” jelasnya.
Sanksi dan Kewenangan Pengawasan
Ketika ditanya mengenai kemungkinan sanksi seperti penutupan sementara, Tri menjelaskan bahwa kewenangan tersebut berada di tangan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai pengawas utama program.
”Tugas Pemerintah Daerah adalah melakukan pengawasan dan pemantauan distribusi di lapangan. Untuk sanksi, kita serahkan kepada Pemerintah Pusat melalui BGN,” sambungnya.
Edukasi Dinkes: Kunci Mengolah Makanan Protein Tinggi
Pasca insiden, Dinkes Kota Bekasi proaktif memberikan panduan teknis kepada semua SPPG untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Kepala Dinkes, Satia Sriwijayanti Anggraeni, menyoroti tantangan dalam mengolah makanan tinggi protein yang rentan basi.
“Bagi dapur umum yang tidak terbiasa mengolah makanan kaya protein dalam jumlah besar, memang rentan tercemar bakteri,” ucap Satia melalui keterangannya, Senin (06/10/2025).
Ia menekankan bahwa kunci utamanya adalah manajemen waktu dan suhu selama proses memasak hingga distribusi.
Waspada Suhu ‘Danger Zone’
Satia menjelaskan bahwa Indonesia yang beriklim tropis mempercepat pertumbuhan bakteri pada makanan. Ada rentang suhu tertentu yang sangat ideal bagi bakteri untuk berkembang biak.
”Suhu tropis kita membuat bakteri gampang tumbuh. Area suhu yang paling nyaman untuk bakteri tumbuh adalah antara 5 sampai 60 derajat Celcius. Ini adalah danger zone (zona bahaya),” imbuhnya.
Oleh karena itu, opsional terbaik adalah menjaga makanan di luar rentang suhu tersebut.
“Bagaimana kita merancang agar makanan tetap dalam kondisi panas (di atas 60°C) atau dingin/beku (di bawah 5°C). Jika berada di tengah-tengah, bakteri akan sangat mudah berkembang,” tegasnya.
Pentingnya Higienitas Petugas Dapur
Selain suhu, faktor kebersihan petugas menjadi elemen krusial untuk mencegah kontaminasi silang. Dinkes mengingatkan kembali standar operasional prosedur (SOP) kebersihan yang wajib dipatuhi.
“Kami mengajarkan supaya mereka menjaga prosesnya, handling-nya, agar tidak tercemar. Caranya adalah dengan memastikan petugas menggunakan tutup kepala, sarung tangan, dan masker saat mengolah dan mengemas makanan,” tutur Satia seraya menegaskan bahwa langkah-langkah sederhana ini sangat efektif untuk menjaga makanan tetap higienis hingga sampai ke tangan siswa.
Bagaimana seharusnya pengawasan program Makan Bergizi Gratis ini dievaluasi? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar dan ikuti terus berita terkait hanya di rakyatbekasi.com
Eksplorasi konten lain dari Rakyat Bekasi
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





































